Autobiografi Erros Djarot Jilid 3

Rp225.000

Ia ikut melahirkan partai pemenang pemilu. Empat tahun kemudian, ia dilarang masuk ke kongres partai itu sendiri.

Dari Kudatuli dan penculikan aktivis, Kerusuhan Mei 1998, hingga sniper berpeluru tajam di Semanggi — lalu deklarasi PDI Perjuangan dan kemenangan Pemilu 1999 yang berakhir hanya di kursi wakil presiden. Menyusul surat perpisahan kepada Megawati, lahirnya PNBK, kehilangan sahabat terdekat, dan perkenalan tak terduga dengan Jokowi di ruang pengadilan.

Penutup rekam perjalanan 55 tahun, ditulis apa adanya.

📌 Jilid ketiga — penutup dari tiga bagian yang mengisahkan perjalanan hidup Erros Djarot secara utuh.

Deskripsi

Autobiografi Erros Djarot

Ia ikut melahirkan partai pemenang pemilu. Empat tahun kemudian, ia dilarang masuk ke kongres partai itu sendiri.
Jilid ketiga adalah babak paling keras dalam perjalanan Erros Djarot — sekaligus babak paling menentukan dalam sejarah Indonesia modern.

Dimulai 1996: kongres rekayasa di Medan, pengambilalihan paksa kantor PDI di Jalan Diponegoro, lalu Kudatuli. Menyusul Pemilu 1997 yang paling rusuh, dan hilangnya sejumlah orang — Haryanto Taslam, Desmond J. Mahesa. Erros Djarot mencatat apa yang mereka ceritakan setelah dilepas para penculik.

Mei 1998 membakar Jakarta. Soeharto pulang dari Mesir dan jatuh. Di bawah Habibie, Orde Baru berganti wajah tapi belum berganti watak — dan Erros menjawabnya dengan menerbitkan DëTAK.

November 1998: Deklarasi Ciganjur, Sidang Istimewa MPR yang dijaga Pam Swakarsa, lalu Semanggi. Ia berada cukup dekat untuk menuliskan detail yang selama ini hanya beredar sebagai desas-desus.

14 Februari 1999, PDI Perjuangan dideklarasikan. Pemilu 1999 dimenangkan. Tapi di Sidang Umum MPR, kemenangan di kotak suara ternyata bukan kemenangan di ruang sidang: Gus Dur presiden, Megawati wakil presiden. Bagaimana itu bisa terjadi — dan siapa yang berbuat apa — ditulis lengkap dengan nama, tempat, dan tanggal.

Lalu datang bagian yang paling sulit ia tuliskan. Orang yang ikut membidani lahirnya PDI Perjuangan justru dilarang masuk ke arena Kongres I partai itu di Semarang. Sebuah surat perpisahan dikirim kepada Megawati. Erros Djarot memilih jalan sendiri, mendirikan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan — dan menolak tawaran Rp25 miliar yang bisa meloloskan partainya ke Senayan pada Pemilu 2004.

Ia mundur ketika menyaksikan uang menjadi pusat kekuatan politik Indonesia — sebelum, seperti ia tulis sendiri, ia ikut menjadi bagian darinya. Di masa surut itu ia kehilangan Dodo, Ricardo Hutauruk, sahabat yang menemaninya di hampir setiap babak perjuangan dalam buku ini.

Dan kisah ini belum berhenti. Perkenalan pertamanya dengan Jokowi justru terjadi di ruang pengadilan, ketika ia diminta menjadi saksi ahli dalam sebuah gugatan terhadap Wali Kota Solo itu pada 2009. Dari sana, jalan hidupnya kembali bersinggungan dengan pusaran kekuasaan: Pilgub DKI Jakarta 2012, hingga Pilpres 2014.

Inilah penutup rekam perjalanan 55 tahun — dari 1959 sampai 2014 — seorang manusia bernama Sugeng Waluyo Djarot alias Erros Djarot. Dalam kalimatnya sendiri: "Beginilah saya dan itulah saya."

Beranikah Anda membaca akhir kisah yang belum pernah diceritakan siapa pun?

📌 Jilid ketiga — penutup dari tiga bagian yang mengisahkan perjalanan hidup Erros Djarot secara utuh.

Informasi Tambahan
Berat 0,8 kg
Dimensi 22 × 15 × 5 cm