Autobiografi Erros Djarot Jilid 2
Editor M. Anis, Kukuh Bhimo Nugroho
--Jakarta : PT. Lingkar Budaya Cerdas, 2026
v + 411 Hlm.; 21 cm
ISBN :
1. Autobiografi II. Judul
Pengantar Editor
Sebuah skenario yang ditolak mentah-mentah. Sebuah film yang nyaris tak pernah ada. Delapan Piala Citra — lalu dibunuh diam-diam di bioskop negeri sendiri.
Jilid kedua dibuka di Aceh. Setelah hampir dua tahun riset, skenario Tjoet Nja' Dhien yang ditulis Erros Djarot ditolak para tokoh adat. Naskah harus dibongkar dan ditulis ulang dari awal. Hasilnya: delapan dari empat belas Piala Citra di Festival Film Indonesia 1988 — dan peredaran yang digembosi mafia film di dalam negeri.
Di sela kerja besar itu, dua kehilangan datang beruntun: Mamah, lalu Bapak — Djarot Djojoprawiro, orang yang ia sebut sahabat sekaligus pahlawannya.
Lalu Erros Djarot pindah medan. Ia membangun DëTIK menjadi pers alternatif paling berani di masa Orde Baru, ikut melahirkan Aliansi Jurnalis Independen dengan menolak PWI, dan menyaksikan Tabloid Simponi dibredel setelah terbit sekali. Dari ruang redaksi itu pula ia menyusun sesuatu yang jauh lebih besar: mengangkat citra Megawati Soekarnoputri, lalu mengawalnya menembus KLB PDI Surabaya, Desember 1993 — kongres yang mengubah peta politik Indonesia.
Dan ada bagian yang tak pernah diduga siapa pun. Mendampingi Megawati ternyata bukan hanya soal politik. Istana Batu Tulis, kamar sakral di Kebagusan, semadi di Pelabuhan Ratu, perjalanan klandestin ke Pangandaran, pasir yang disebar di Jalan Cendana, empat berlian misterius. "Satu kaki berada di alam rasional, sementara kaki satunya menginjak alam irasional."
Semua ditulis apa adanya — tanpa sensor, tanpa pencitraan.
Beranikah Anda menyaksikan bagaimana sejarah dibuat, dari sisi yang tak pernah masuk buku pelajaran?











